anisnila
Kamis, 22 Mei 2008

Hendaklah Anda ingat, tatkala Anda bisa menekan hawa nafsu, akan banyak hikmah dan keselamatan yang Anda peroleh dari kekuatan kesabaran dalam menghadapi gejolak nafsu. (Imam Ibnu al-Jauzy)
Pada tahun1998, dalam sebuah kampanye bertajuk “The Bread of Life”, telah disurvey lebih dari 900 perempuan muda berusia 18-24 tahun yang tinggal di Barat. Hasilnya, dalam sebuah laporan berjudul “Tekanan Untuk Menjadi Sempurna”, 55% responden menyatakan penampilan adalah aspek yang paling menarik dari seorang perempuan. Dan hanya 1% yang menyatakan kecerdasan sebagai aspek tambahan.
Sementara di dalam negeri, sebanyak 83% remaja Jambi mengaku kalo dirinya sangat mementingkan penampilan dan sisanya sebanyak 17% mengaku tidak terlalu memperhatikan penampilan. (Jambi Independent, 04/02/08).
Emang bukan rahasia lagi kalo remaja putri (remaja) paling peka dalam berbusana. Karena penampilanlah yang pertama kali dinilai orang sebelum kenal lebih dekat. Remaja nggak rela kalo pakaiannya asal nempel. Pokoknya mesti gaul bin trendi. Perkara pantes atau nggak, itu urusan belakangan. Soalnya kalo ketinggalan mode, bakal dianggap aneh ama temen-temennya. Dan itu sama aja dikutuk jadi lalat ijo. Idih, jijay deh!
Perangkap Tren Fashion
Melalui media massa, tren fashion dengan leluasa menyapa remaja. Saban hari, aneka busana yang dikenakan idola remaja tak henti-hentinya menghiasi layar kaca. Majalah remaja pun jor-joran mengupas busana remaja yang lagi in. Mulai dari baju tidur, seragam sekolah, pakaian hang out, gaun pesta, hingga aksesoris pelengkap busana. Semuanya ’memaksa’ remaja untuk selalu ngikutin arus mode kalo nggak mau disebut sebagai pejabat alias pemudi jaman batu.
Tren fashion telah menciptakan standar baru dalam berbusana. Remaja digiring untuk menyukai atau membenci model baju sesuai pola hidup masyarakat Barat yang sekuler. Biar tambah greget, dikasih deh label busana gaul bin trendi. Makanya remaja ngerasa penting pake tangtop, kaos oblong full press body, atau celana Jeans super ketat karena dianggap gaul. Endingnya, remaja nggak malu mengobral ’aset-aset’ berharganya demi ngikutin mode.
Repotnya kalo udah terjerat tren busana, hidup remaja jadi nggak tenang. Bawaannya pengen selalu tampil sempurna seperti foto model atau seleb muda. Untuk itu, remaja rela diet mati – matian biar badannya bisa ngepas dengan baju tang top atau t-shirt ketat yang lagi banyak digandrungi. Malah lantaran khawatir kegemukan, sampe ada yang jatuh sakit lho lantaran dietnya kebablasan. Ogah makan makanan berlemak plus minimalis mengkonsumsi makanan karbohidrat. Ini yang disebut penyakit jiwa anorexia nervousa. Langsing kagak, sekarat iya. Kacian deh…
Tuntutan untuk tampil sempurna juga mendorong remaja untuk menomorduakan kecerdasan, perilaku, atau kelebihan non fisik lainnya. Termasuk aturan agamanya. Seluruh hidupnya dipake untuk ngurusin penampilan fisik. Seperti penuturan Germaine Greer, seorang feminis dan penulis barat, dalam bukunya, “The Whole Woman”. “Setiap perempuan tahu, bahwa sekalipun mereka memperoleh berbagai prestasi, tetapi bila tidak cantik berarti mereka telah melakukan suatu kekeliruan.”
Parahnya, kebanyakan remaja nggak nyadar kalo tren fashion udah merendahkan martabat mereka. Remaja dipancing untuk berani tampil sexy, naughty, bitchy ala Tata Young demi memuaskan dahaga syahwat laki-laki. Karena memang, skenario itulah yang dijalankan tren fashion dunia yang berkiblat pada pola hidup masyarakat Barat. Remaja ‘dipaksa’ setuju kalo tren busana yang mengumbar aurat wanita dari segala penjuru dunia itu trendi, gaul, dan mulia dihadapan pria. Padahal mah justru primitif. Merendahkan wanita sebagai objek seks semata. Hati-hati non!
Pren, remaja muslimah emang punya pilihan untuk pake baju trendi. Tapi bukan berarti asal ngikut mode dong. Sebagai muslimah, tetep mesti inget ama rambu-rambu Islam dalam berbusana. Biar harga diri kita nggak diinjak-injak. Betul?
Mengenal Busana Muslimah
Untuk menjaga kemuliaan martabat seorang wanita, Islam punya aturan yang lengkap dalam berbusana. Aturan itu meliputi batasan aurat wanita, busana wanita dalam kehidupan khusus, dan busana wanita dalam kehidupan umum.
Pertama, batasan aurat wanita meliputi seluruh anggota tubuhnya kecuali wajah dan dua telapak tangannya. Itu berarti, bagi wanita yang udah haid, wajib hukumnya menutup seluruh auratnya dihadapan orang yang bukan mahram. Kalo ada selembar rambut nongol, mesti segera dievakuasi. Karena rambut bagian dari aurat.
Nabi SAW pernah berkata kepada Asma‘ binti Abu Bakar:
“Wahai Asma‘ sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haidl) maka tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini seraya menunjukkan wajah dan telapak tangannya.” (HR. Abu Dawud)
Kedua, busana wanita dalam kehidupan khusus. Yang dimaksud kehidupan khusus adalah kehidupan yang kalo ada orang asing mau masuk, mesti minta izin dulu. Seperti kehidupan di dalam rumah. Dalam kehidupan khusus, wanita boleh pake busana apa aja bentuk dan modelnya. Yang penting menutup aurat dan menutupi kulit sampe warna kulitnya nggak ketahuan.
Nabi SAW bertanya pada Usamah perihal Qibtiyah (baju tipis) yang telah diberikan Nabi SAW kepada Usamah. Lalu dijawab oleh Usamah bahwasanya ia telah memberikan pakaian itu kepada isterinya, maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya:
“Suruhlah isterimu melilitkan (kain lain) di bagian dalam kain tipis itu, karena sesungguhnya aku khawatir kalau-kalau nampak lekuk tubuhnya.”
Ketiga, busana wanita dalam kehidupan umum seperti kehidupan di pasar, di sekolah, di rumah sakit, dan di tempat umum lainnya. Dalam kehidupan ini, seorang muslimah wajib pake khimar dan jilbab. Dalil mengenai wajibnya pake khimar adalah firman Allah SWT :
“Hendaklah mereka mentutupkan kain kerudung ke dadanya..” (QS An-Nuur [24]: 31)
Yang dimaksud khimar yaitu kerudung atau apa saja yang serupa dengannya yang berfungsi menutupi seluruh kepala, leher, dan 3 lubang baju di dada. Adapun dalil wajibnya pake jilbab ketika di luar rumah adalah firman Allah SWT:
Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-Ahzab [33]: 59)
Kewajiban jilbab juga dikuatkan oleh penuturan Ummu ‘Athiyah :”Rasulullah saw telah memerintahkan kepada kami untuk keluar (menuju lapangan) pada saat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha; baik wanita tua, yang sedang haid, maupun perawan. Wanita yang sedang haid menjauh dari kerumunan orang yang shalat, tetapi mereka menyaksikan kebaikan dan seruan yang ditujukan kepada kaum Muslim. Aku lantas berkata, “Ya Rasulullah saw, salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab. “Beliau kemudian bersabda, “Hendaklah salah seorang saudaranya meminjamkan jilbabnya.”
Hadits ini ngasih tau kita kalo semua muslimah disunnahkan untuk menghadiri sholat Idhul Adha di lapangan atau di mesjid, tapi kudu pake jilbab. Kalo ada yang nggak punya jilbab, maka temennya mesti ngasih pinjem. Kalo temennya nggak bisa minjemin, maka yang bersangkutan tidak boleh keluar rumah. Ini menunjukkan kewajiban pake jilbab ketika ke luar rumah itu penting banget. Makanya setiap muslimah kudu punya jilbab. Biar tetep bisa bersosialisasi di luar rumah. Kaya gimana sih jilbab itu?
Dalam kamus al-Mu’jam, yang maksud jilbab adalah kain terusan (dari kepala sampai bawah) (Arab: milhafah-mula‘ah) yang dikenakan sebagai pakaian luar (di bawahnya masih ada pakaian rumah) lalu diulurkan ke bawah hingga menutupi kedua kakinya. Selain itu, jilbab juga harus terbuat dari kain yang tidak transparan dan tidak menampakkan lekuk tubuh. Gicthu!
Oh ya, mengenai cadar, ulama berbeda pendapat dalam mengenakannya. Mayoritas ulama berpendapat Aurat wanita itu ialah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangannya. Itu berarti, mereka berpendapat tidak ada kewajiban pake cadar untuk menutup wajahnya. Seperti dikemukakan oleh Imam Nawawi, Imam Syafi’i, Imam Malik, Abu Hanifah, al-Auza’i, Abu Tsaur, dan segolongan ulama, serta satu riwayat dari Imam Ahmad. Tapi, nggak wajib bukan berarti dilarang. Boleh aja pake cadar biar nggak timbul fitnah karena kecantikan wajahnya. (“Fatwa-fatwa Kontemporer”, Dr. Yusuf Qardhawi) Yang penting, kita nggak menilainya negatif. Positive thinking selalu!
Pren, semoga penjelasan tentang busana muslimah di atas bisa menambah wawasan kamu biar nggak misspersepsi. Maksud hati menutup aurat, ternyata belum sempurna. Sayang kan?
Sempurnakan Busana Kita, Yuk!
Bagi muslimah, menutup aurat ketika diluar rumah itu bukan pilihan, tapi kewajiban. Berabe urusannya kalo muslimah tetep ngotot ngikutin tren fashion yang mengumbar aurat. Rasul saw bersabda:
“Siapa saja dari seorang perempuan yang melepaskan (membuka_ pakaian selain di rumahnya (di luar rumah), maka Allah pasti merobek tirai kehormatan dari padanya.” (HR. Ahmad, Thabrani, dan Bazaar dari Aisyah).
Dan biar kamu nggak keliru, berbusana dalam Islam itu nggak cuman asal nutup aurat. Soalnya ada yang memahami ketika di luar rumah nggak apa-apa pake kerudung yang dipadukan tangtop atau kaos panjang plus celana jeans ketat. Ada juga yang memadukan kerudungnya dengan baju atas panjang nan longgar, dan bagian bawah berupa rok panjang atau celana panjang longgar yang biasa disebut kulot. Kayak gitu mah pantasnya cuma di dalam rumah, di depan suami dan anggota keluarga euy. Hehehe…
Kalo kamu mau bergaya, silahkan aja otak-atik tuh model kerudung dan jilbabnya. Asalkan jangan sampai menampakkan lekuk tubuh, nggak full press body, atau pake kain yang transparan. Kalo kamu suka, boleh kok pake jilbab dengan corak garis-garis, kotak-kotak, bulat-bulat, segitiga-segitiga, dan bangun geometri lainnya. Atau corak naturalis seperti hiasan bunga-bunga, pegunungan, perkotaan, atau pemakaman. Hehehe…jilbab atau lukisan tuh non?
Untuk warna juga kamu bisa padukan semua warna biar kaya pelangi (atau malah mirip badut? Hehehe…). Atau warna-warna pastel yang sepadan antara kerudung dan jilbab. Modelnya bisa berkreasi untuk menciptakan setelan yang oke. Model berempel atau model warna lengan yang berbeda dengan warna bagian badan. Bisa juga dilengkapi dengan aksesoris, seperti menambahkan rendan kancing, bros yang manis dikerudung kita. Tapi, meski kamu gibol (gila bola) dan ngefans ama Ricardo Izecson do Santos Leite alias KAKA, kayanya norak deh kalo jilbab kamu dikasih nomor punggung 22 gitu. Yee… siapa juga yang pake no punggung? Asal deh!
Oke deh pren, kita semua berharap remaja tetep bangga dengan keislamannya. Sehingga selalu pede untuk selalu menutup aurat dan pake jilbab dan khimar di luar rumah di tengah serangan tren fashion yang merendahkan wanita. Bukan hanya ridho Allah yang bisa kita raih, tapi juga kemuliaan dan ketinggian martabat kita sebagai seorang wanita. Kini, saatnya kita sempurnakan busana kita dengan aturan Islam biar nyaman di luar nyaman juga di dalam. Mari!

Filed Under:

0 comments: